Meinckemorris89's website

Our website

30
Ja
Arti Aqiqah Merujuk Kepercayaan Islam
30.01.2017 05:49


Dari segi bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, karena dipotongnya leher binatang beserta penyembelihan ini. Ada yang mengatakan jika aqiqah ialah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada pun yang menyebarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Rambut yang terjumpa pada penyelenggara si bocah ketika ia keluar mulai rahim pangkal, rambut berikut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk balita yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, atau 21. Jumlahnya 2 termuda untuk bayi laki-laki dan 1 sudut untuk budak perempuan.

http://dapoeraqiqah.com Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak momongan tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi seri dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang serupa dan bayi perempuan tunggal kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya di dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dilaksanakan karena kemunculan bayi, maka sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Atas ‘Amr bin Syu’aib mulai ayahnya, atas kakeknya, Nabi bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi jadi hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan tunggal kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW relasi ber ‘aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, sira memberi nama dan mengharuskan supaya dihilangkan kotoran atas kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di dalam AI-Mustadrak perkara 4, sesuatu. 264]

Keterangan: Hasan & Husain ialah cucu Rasulullah SAW.

Atas Fatimah binti Muhammad begitu melahirkan Hasan, dia mengatakan: Rasulullah berkata: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada sosok miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih di hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Patokan Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Kepala Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan rutin ulama ahli fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sebab kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai substansi yang sunnah muakkadah ialah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan percik darinya selekeh (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Titik lidah: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah amanat, namun sungguh bersifat wajib, karena terselip sabdanya yang memalingkan atas kewajiban ialah: “Barangsiapa diantara kalian terdapat yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, oleh karena itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Serbuk Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang memutar perintah yang pada dasarnya tentu menjadi sunnah.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu diantaranya layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh dalam aqiqah itu hewan yang picak, kurus, patah tulang, dan perih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam hewan aqiqah tersebut cacat-cacat yang bukan diperbolehkan di dalam qurban.

Buraidah berkata: Lalu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan mengotori kepalanya beserta darah wedus itu. Oleh sebab itu setelah Sang pencipta mendatangkan Agama islam, kami menggorok kambing, menjatuhkan (menggundul) penyelenggara si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud perkara 3, hal. 107]

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang saat masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka menggores kapas secara darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si budak mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Gantilah sundut itu secara minyak wangi”.[HR. Pelerai demam Hibban beserta tartib Ibnu Balban juz 12, sesuatu. 124]

Pelaksanaan aqiqah menurut kesepakatan getah perca ulama ialah hari ketujuh dari kelahiran. Hal itu berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW menitahkan, “Seorang keturunan terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Meski tidak pula, maka saat hari ke-21 atau manakala saja ia mampu. Imam Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) untuk dasar imbauan, maka takut-takut menyembelih saat hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah pas. Karena pijakan ajaran Islam adalah mempermudah bukan merunyamkan sebagaimana nasihat Allah SWT: “Allah mengkhayalkan kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini bertolak pada sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi identitas. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan apabila tidak mampu melaksanakannya pada hari ketujuh, maka siap dilaksanakan saat hari ke empat belas kasihan, dan jikalau tidak sanggup, maka pada hari ke dua puluh satu, itu berdasarkan hadits Abdullah Rumpun Buraidah daripada ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, ke 4 belas, serta ke 2 puluh wahid. ” (Hadits hasan babad Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga minggu masih tidak mampu maka kapan aja pelaksanaannya dalam kala telah mampu, sebab pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan di dua persepuluhan satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama bukan wajib. & boleh juga melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Momongan yang meninggal dunia pra hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun bayi yang kelulusan dengan tata sudah berusia empat hari di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada abi si bocah. Namun jika seseorang yang belum pada sembelihkan hewan aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia dapat menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh sebab itu hal ini tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan saat hari ketujuh dari kemunculan. Jika tidak bisa, jadi pada hari keempat belas. Dan jika gak bisa lagi, maka saat hari ke-2 puluh satu. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi beban ayah.

Tapi demikian, bahwa ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia siap melakukan aqiqah sendiri di saat kuat. Satu saat al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah pada besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menyongsong, “Menurutku, bahwa ia belum diaqiqahi saat kecil, oleh karena itu lebih indah melakukannya sendiri saat gede. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga mereken demikian. Dari sisi mereka, anak-anak yang sudah biasa dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang-orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Total hewan aqiqah minimal ialah satu ekor baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Putri Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain tunggal domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Serbuk Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kita harus pulih bahwa Rancak dan Husain adalah budak kembar. Jadi pada satu kelahiran ini disembelih dua ekor kibas.

Namun yang lebih terpenting adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 sudut untuk anak perempuan menurut hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki dua ekor kambing dan mulai anak perempuan satu ekor. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki 2 ekor sedia yang seimbang dan dari anak perempuan satu upaya. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan secara ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang keturunan

1. Disunnatkan untuk memberikan nama dan mencukur rambut (menggundul) di dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir pada hari Minggu, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

dua. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor wedus sedang untuk anak dara 1 upaya.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan menurut orang tua si anak, namun demikian boleh juga dilakukan oleh keluarga yang lain (kakek dan sebagainya).

4. Aqiqah tersebut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Indah Mentah Atau Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan di dalam kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk bani dan mono ekor kambing untuk bani perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah diberikan kepada tetangga dan melarat miskin pula bisa diberikan kepada manusia non-muslim. Makin jika sesuatu itu dimaksudkan untuk memikat simpatinya & dalam rajah dakwah. Dalilnya adalah nasihat Allah, “Mereka memberi menjarah orang seman, anak yatim, dan tawanan, dengan prinsip senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada ketika itu adalah orang-orang ridah. Namun demikian, keluarga juga boleh membuang sebagiannya.

Yang berhubungan secara binatang sembelihan

1. Di masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memperlakukan apakah lelaki atau putri, sebagaimana babad di kaki gunung ini:

Mulai Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia sudah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor wedus dan untuk anak perempuan satu sudut kambing. Bukan menyusahkanmu cantik kambing ini jantan mau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, pada Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum memperoleh dalil yang lain yang menampilkan adanya hewan selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Saat yang dituntunkan oleh Nabi SAW menurut dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 per kelahiran bani tersebut. [Lihat saksi dusta riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Tentang hal dagingnya jadi dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, serta mensedekahkan beberapa lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan gak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menyisihkan kerabat dan tetangga untuk menyantap makanan daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada umat islam, dan larat mengundang teman2 dan suku untuk menyantapnya, atau mahir juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Putra Bazz berkata: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya / sebagiannya dan memasaknya lalu mengundang orang2 yang engkau lihat layak diundang atas kalangan kerabat, tetangga, teman2 seiman & sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, & hal seperti dikatakan sambil Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi jika ada sangkut paut antara definisi sebuah nama dengan yang diberi sebutan. Hal tersebut ditunjukan secara adanya sejumlah nash syari yang menyarankan hal itu.

Dari Bubuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan meraih bahwa makna-makna yang terkandung dalam pamor berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan serasa nama-nama itu diambil atas makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui imbas nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Awak datang kepada Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku jawab: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama penghargaan bapakku” Pelerai demam Al-Musayyib mengatakan: “Orang tersebut senantiasa bersuara keras lawan kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang baik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang elok yang padan diberikan merupakan nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana ceramah beliau: Dari Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik menurut ajaran Agama islam, silahkan faksi:

Memberi Nama Bayi alias Anak Dengan Islami


Menjatuhkan Rambut

Mencukur rambut adalah anjuran Nabi yang sangat baik untuk dilaksanakan ketika anak yang baru menyembul pada hari ketujuh.

Di dalam hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak tersekat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi nama, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik memberitahukan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Lembut dan Husein lalu sira menyedekahkan perak seberat serabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan beserta rata; bukan boleh seharga mencukur sebagian kepala dan sebagian lainnya dibiarkan. Tentu saja semakin banyak serabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar juga sedekahnya.

Seruan Menyembelih Hewan Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Berarti: Dengan seri Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) atas Muhammad dan keluarga Muhammad serta atas ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa bayi baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Memiliki arti: Aku berlindung untuk bani ini dengan kalimat Allah Yang Simpan dari sekalian gangguan syaitan dan huru-hara binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat mengangkat akibat melorot bagi segalanya yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pikir Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu buah situs mempunyai beberapa hikmah diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim AS tatkala Tuhan SWT menerima putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Dalam aqiqah ini mengandung faktor perlindungan daripada syaitan yang dapat meranyau anak yang terlahir tersebut, dan itu sesuai dengan makna hadits, yang berarti: “Setiap budak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Sehingga Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Sang pencipta lebih terlindung dari gangguan syaithan yang sering meranyau anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sambil Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya”.

3. Aqiqah yakni tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di hari rekapitulas. Sebagaimana Imam Ahmad menunjukkan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat bagi kedua orang-orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan kerangka taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud rasa syukur buat karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah guna sarana menimbulkan rasa rewel dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menasihati ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan sedang banyak juga hikmah yang terkandung pada pelaksanaan Syariat Aqiqah tersebut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Bubuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Adam al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free website powered by Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!